STT HKBP Pematangsiantar Rayakan Peringatan ke-508 Tahun Reformasi Martin Luther
Pematangsiantar, 1 November 2025 – Sekolah Tinggi Teologi HKBP (STT HKBP) Pematangsiantar melaksanakan ibadah peringatan ke-508 Tahun Reformasi Martin Luther pada Jumat, 31 Oktober 2025, bertempat di Aula STT HKBP Pematangsiantar.
Ibadah peringatan berlangsung dalam suasana khidmat dengan Steven Damanik bertugas sebagai liturgis, dan Pdt. Pahala Jannen Simanjuntak, D.Th, selaku Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan, menyampaikan khotbah yang diambil dari Yohanes 17:6. Dalam renungannya, beliau menegaskan bahwa doa Yesus bagi murid-murid-Nya merupakan dasar reformasi iman melalui pengajaran tentang nama Allah dan ketaatan kepada firman Tuhan. “Demikian pula Martin Luther mereformasi gereja dengan kembali kepada firman Tuhan dalam Alkitab — back to the Bible. Dari sanalah kita memahami sola fide, sola gratia, dan sola scriptura, bahwa hanya karena iman, anugerah, dan firman Tuhan kita menerima pengampunan dosa,” ujarnya.
Ibadah dimulai pukul 09.15 WIB dan berakhir pada pukul 10.15 WIB, dihadiri oleh para dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa STT HKBP. Turut hadir pula Bapak Detlev Nonne dari Jerman, mantan dosen STT HKBP, yang secara khusus datang berkunjung dan mengikuti ibadah peringatan ini.
Acara dilanjutkan dengan Refleksi Peringatan Reformasi Martin Luther ke-508 yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Jordan H. Pakpahan, Kepala LPPM STT HKBP. Dalam refleksinya, “Kita tidak dapat mengubah apa yang terjadi di masa lalu, tapi ingatan kita akan masa lalu dan bagaimana cara kita mengingatnya tentu dapat kita ubah. Ingatan masa lalu itu dapat hadir di masa kini. Tentu lewat perayaan atau kommemorasi. Hari ini 31 Oktober 2025 kita mengingat kembali 31 Oktober 1517 sebagai titik tumpu utama peristiwa Reformasi gereja. Reformasi gereja kini tidak lagi dirayakan oleh komunitas Protestan tapi juga oleh komunitas Katolik. Itu makanya Reformasi kini terbuka untuk bukan saja kommemorasi umum tapi juga selebrasi umum. Dua komunitas merayakannya lalu mencari makna yang baik dari sudut pandang masig-masing. Untuk tujuan pembaruan (renewal), pertobatan, dan transformasi. ” ungkapnya.
Pdt. Jordan juga menguraikan empat pokok penting dalam pemaknaan Reformasi masa kini:
- Sola Scriptura: Kembali kepada Alkitab
Alkitab merupakan dasar dan sumber utama iman Kristen (principium fidei). Segala aspek kehidupan bergereja — teologi, doktrin, liturgi, dan pelayanan — harus diukur dan ditundukkan kepada Alkitab. Prinsip Sola Scriptura tetap menjadi keyakinan dasar Reformasi. Namun, dalam konteks kini, pemahaman Alkitab tidak dapat hanya menggunakan pendekatan biblis semata, tetapi juga perlu ditafsirkan melalui hermeneutik filosofis, sosial, dan kontekstual untuk membuka ruang dialog antariman dan kerja sama sosial lintas agama.
- Justification by Faith: Pembenaran oleh Iman
Doktrin ini menjadi pusat teologi Reformasi, terutama dalam tradisi Lutheran. Kini, pembenaran dipahami sebagai karya nyata keselamatan yang membebaskan manusia dari penindasan spiritual dan struktural. Berdasarkan kasih Kristus, iman harus diwujudkan dalam tindakan kasih, keadilan, dan pembaruan relasi antara manusia, Tuhan, dan ciptaan. Keselamatan tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi alam semesta dari kerusakan ekologis dan keserakahan korporasi.
- Theosis atau deifikasi: Spiritualitas yang Transformatif
Menegaskan kesatuan orang percaya dengan Kristus. Gagasan ini, sebagaimana diangkat oleh Tuomo Mannermaa dari pemikiran Luther, menyatakan bahwa Kristus berdiam dalam diri orang percaya dan mentransformasikan mereka menjadi serupa dengan Allah. Theosis adalah pemulihan gambar Allah dalam diri manusia melalui salib Kristus. Spiritualitas ini mendorong orang Kristen untuk hidup dalam kesatuan dengan Allah dan mewujudkan transformasi pribadi serta sosial di dunia.
- Teologi Salib dan Kultur Protes
Salib Kristus menjadi simbol solidaritas Allah terhadap penderitaan manusia. Teologi salib menolak penyalahgunaan simbol salib untuk legitimasi kekuasaan atau kolonialisme. Salib Kristus menandai kehadiran Allah di tengah penderitaan kaum tertindas, menjadi dasar bagi perjuangan keadilan, pembelaan terhadap kaum kecil, serta pemulihan ekologis. Gereja harus menjadi Gereja salib (ecclesia crucis) yang berani memprotes kekuasaan yang menindas, penyembahan terhadap mamon, hedonisme, dan sekularisme yang merusak kehidupan sosial.
“Reformasi bukanlah peristiwa sekali jadi, melainkan proses yang terus berlangsung — ekklesia reformata et semper reformanda — gereja yang senantiasa diperbarui oleh firman Allah hingga parousia Kristus,” tegas Pdt. Jordan dalam penutup refleksinya.
Menjelang akhir ibadah, Pdt. Dr. Ricardo Sisco Turnip, selaku Wakil Ketua II Bidang Administrasi Umum, menyampaikan beberapa pengumuman, kemudian acara ditutup dengan doa dan berkat.
Melalui peringatan Reformasi ke-508 tahun ini, civitas akademika STT HKBP Pematangsiantar diingatkan kembali akan semangat pembaruan yang diwariskan Martin Luther, agar terus dihidupi dalam pelayanan, kehidupan akademik, dan keseharian umat percaya di tengah dunia yang terus berubah.
#STTHKBP
#Peringatanke508TahunReformasiMartinLuther
#WaketIIIKemahasiswaan
#BerimanBerilmuBerkarakter
#HUMASSTTHKBP