STT HKBP Pematangsiantar Gelar Kuliah Umum Bersama Rev. Dr. Yabibal Teklu Senbetu: “Emosi, Identitas, dan Mesin dalam Pembentukan Spiritualitas”
Pematangsiantar, 17 Oktober 2025, Sekolah Tinggi Teologi HKBP (STT HKBP) Pematangsiantar, kembali menyelenggarakan Kuliah Umum Bulanan secara daring melalui Zoom Meeting pada pukul 10:30–12:30 WIB, dengan menghadirkan pembicara internasional Rev. Dr. Yabibal Teklu Senbetu, Doctor of Systematic and Cultural Theology, sekaligus pengajar teologi di LTCI (India), MBS (USA), dan JCS (South Korea). Acara ini dimoderatori oleh Rev. Dr. Tumpal S. Silitonga.
Dalam kuliah bertajuk “Emotion, Identity, and the Machine: Exploring Emotional and Artificial Intelligence in Spiritual Formation through Philosophical, Theological, and Ethical Lenses,” Dr. Senbetu menelusuri pertemuan kompleks antara emosi, identitas, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam konteks pembentukan spiritualitas Kristen.
Beliau menegaskan bahwa kecerdasan emosional dan buatan dapat memainkan peran pembentuk dalam mengarahkan spiritualitas manusia, sambil menegaskan pentingnya kesadaran akan keterbatasan etis dan ontologis mesin. Melalui pendekatan interdisipliner yang memadukan filsafat, teologi, etika, dan teknologi, kuliah ini mengajak peserta menelaah bagaimana interaksi antara manusia dan mesin dapat membentuk identitas spiritual tanpa menggantikan dimensi ilahi dan komunal dari iman Kristen.
Kuliah ini juga menyoroti pentingnya emosi dalam teologi dan spiritualitas. Emosi dipahami bukan sekadar aspek psikologis, melainkan juga unsur moral dan spiritual yang membentuk relasi manusia dengan Allah. Sebagaimana dijelaskan, teologi dan emosi saling terjalin erat sejak zaman para teolog awal seperti Agustinus dan Thomas Aquinas, hingga pemikiran modern Friedrich Schleiermacher yang menempatkan “perasaan ketergantungan mutlak kepada Allah” sebagai inti dari iman.
Selain itu, Dr. Senbetu membahas kecerdasan emosional (Emotional Intelligence/EI) sebagai kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengarahkan emosi secara etis dan spiritual. Ia menilai bahwa kematangan emosional merupakan bagian integral dari pertumbuhan rohani dan pembentukan karakter Kristiani, yang melibatkan keseimbangan antara hati, pikiran, dan tindakan.
Di era digital, kemunculan kecerdasan buatan (AI) menghadirkan tantangan baru bagi refleksi teologis. Mesin dengan kemampuan belajar dan mengenali emosi mengundang pertanyaan mendalam: apakah AI dapat memiliki dimensi spiritual? Dr. Senbetu menekankan bahwa sekalipun AI dapat membantu manusia memahami pola berpikir dan emosi, hanya manusia yang diciptakan menurut Imago Dei yang memiliki kapasitas transendental untuk berelasi dengan Allah.
Acara yang berlangsung selama dua jam ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan peserta umum dari berbagai daerah serta disiarkan langsung melalui kanal YouTube STT HKBP Channel. Dalam suasana akademis yang interaktif, peserta diajak untuk berpikir kritis dan reflektif terhadap implikasi teologis perkembangan teknologi.
Pada akhir acara, panitia menyampaikan ungkapan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas penyertaan-Nya sehingga kegiatan kuliah umum ini dapat berlangsung dengan baik dan memberikan wawasan baru bagi dunia teologi dan pelayanan Kristen di era kecerdasan buatan.
#STTHKBP #KuliahUmum
#PUBLIKLECTURE
#BerimanBerilmuBerkarakter
#HUMASSTTHKBP